fenomena november

Ada beragam fenomena pada cerita bersamamu, November. Fenomena-fenomena semacam ini adalah hal baru yang pertama kali ini kurasakan. Kalaupun ada hal serupa yang sebelumnya pernah terjadi, tetapi fenomena pada ceritamu ini sungguh terasa berbeda sekali. Pada waktu yang berbeda, tempat yang berbeda, bersama orang yang berbeda, fenomena itu menjadi unik dengan sendirinya. Sepertinya tidak akan dapat terjadi hal yang serupa persis sedemikian itu.

Karenanya itu, cerita tentang fenomena-fenomena yang terjadi bersamamu, November, tak boleh luput untuk ditorehkan dalam sebentuk tulisan seperti  Hari-Hari di Januari, Memori Februari, Meretas Maret, Kerikil April, My May, Kejutan Juni, Lilitan Juli, Kusutnya Agustus, Sekaliber September, dan Tertohok oleh Oktober Kau berikan kepadaku kesan yang mendalam akan setiap fenomena yang kujalani bersama dirimu.Sebentuk tulisan ini semoga dapat menjadi kenangan pengingat manis pada setiap fenomena itu…

fenomena novemberNovember, simaklah cerita kita kembali di saat yang sudah lalu itu…

4 November 2012, “Sewa untuk Setahun Lagi”

Sudah hampir setahun berjalan dari keputusan untuk menyewa sepetak bangunan sebagai tempat domisili di kota perantauan ini. Mengingat sekilas apa yang telah dilewati dalam jangka waktu itu, memang tak bisa dibilang semuanya berjalan lancar sebagaimana yang diharapkan. Ada kesulitan yang harus dihadapi, ada keengganan yang hinggap sejenak, ada kebosanan yang sering tak dapat dielakkan.

Namun, pada sepetak bangunan itu, tak bisa dipungkiri jua ada hal-hal yang menjadikannya susah untuk beranjak lepas dari sana. Di sana, November, aku bisa lebih menjadi diriku sendiri, aku bisa berlatih untuk mengurus kehidupanku sendiri secara mandiri, dan aku lebih leluasa dalam menjalankan keseharianku lepas dari dunia pekerjaan yang sudah terlalu mendominasi.

Oleh karena itulah, November. Sudah diputuskan lebih baik untuk memperlama waktu untuk berada di sana. Semoga saja keputusan ini membawa berkah dan apa yang selanjutnya terjadi adalah hal yang semakin lebih baik di tempat ini…

8 November 2012, “Pertama Menjadi Pembicara”

Menurutku seorang pembicara dalam suatu acara mestilah orang yang harus mumpuni dalam bidang yang ia ampu dalam presentasi materi yang dibawakan olehnya. Betul demikian ‘kan, November? Jadi, suatu hal yang terasa janggal pada mulanya saat diriku ditunjuk menjadi pembicara mewakili tempatku bertugas dalam suatu acara yang sepertinya masih belum aku mumpuni dalam bidangnya.

Namun apa daya. Tak seorang pun yang lebih terlihat dapat menguasai materi yang hendak disajikan di tempatku bekerja daripada aku sendiri. Awalnya kucoba menolak dan berdalih berbagai macam alasan. Akan tetapi, kian lama aku berdalih, semakin terasa bahwa aku menghindar dan cenderung tak memberikan solusi alternatif pengganti daripada aku ditugaskan untuk itu.

Maka kemudian dengan berat hati, aku terima saja penugasan itu. Mulailah aku mempersiapkan diri dan belajar dalam waktu yang teramat singkat mempelajari bahan materi yang akan disampaikan. Dengan masih terganjal gerutu, kekesalan, dan keengganan, persiapan itu aku lakukan. Namun, hal semacam ini dapat ditepis dengan persepsi bahwa ini adalah kesempatan pertama yang berharga dan menjadi pembelajaran. Memang ini sudah saatnya untuk mengambil peluang kesempatan ini.

Dan tibalah fenomena itu terjadi. Saat diriku menjadi seorang pembicara yang menyampaikan materi “Administrasi Keuangan Pendapatan Nikah-Rujuk untuk Kantor Urusan Agama se-Kabupaten Pesisir Selatan”. Memang urusan hal ihwal keuangan ibarat kata sudah menjadi makanan keseharianku dalam bekerja, namun dengan hal lebih teknis semacam materi ini tentu menjadi tantangan tersendiri untuk lebih mendalaminya dan membagi ilmu yang terkait dengannya kepada para peserta yang hadir.

Pada pengalaman pertama ini, tak dapat dipungkiri masih ada kelemahan dan kekurangan yang terjadi pada penyampaian materi dari diriku, November. Namun, pengalaman pertama memang sangat berharga dengan adanya pembelajaran untuk kesempatan selanjutnya menjadi lebih baik lagi. Semoga…

12 – 15 November 2012, “Mengikuti Sosialisasi di Bandung”

Tak dapat disangka aku mendapat kesempatan bersua kembali dengan kota cantik yang bernama Bandung lagi, November. Ini menjadi kali ketiga aku menyambanginya dan tentu masih terasa betapa antusiasnya diriku untuk hal ini. Kali ini penugasan untukku dalam rangka mengikuti kegiatan “Sosialisasi dan Penyegaran Sistem Akuntansi Instansi untuk Satuan Kerja Instansi Vertikal DJPB” tentu tak hanya menjadi kewajibanku untuk menjalaninya, kuharap akan ada momen-momen yang menyenangkan selama berada di kota ini sama seperti sebelumnya.

Berbicara tentang kewajibanku pada penugasan ini, ya memang aku harus berangkat untuk hal ini. Kegiatan ini akan menjadikanku lebih berwawasan dan mempunyai pengetahuan mumpuni dalam menjalankan salah satu tugas di tempat bekerja sebagai petugas yang bertanggung jawab atas pelaksanaan Sistem Akuntansi Instansi. Walau kegiatan ini terasa begitu ekspres dengan banyak materi yang disampaikan pada waktu kegiatan yang hanya sebentar saja, namun jelas efeknya jika diperbandingkan dengan sebelumnya, pengetahuan dan wawasanku menjadi bertambah, November.

Semoga saja kegiatan ini akan berdampak baik pada pekerjaan yang aku ampu di tempat bekerja dan tentu dalam setiap kegiatan yang ditugaskan untuk diikuti pasti akan diiringi dengan bertambahnya beban tanggung jawab karena menjadi orang yang terlebih mengetahui mengenai bahan kegiatan tersebut…

15 – 17 November 2012, “Menikmati Momen di Bandung”

Bagaimana aku tidak seantusias seperti ini, November, jika kesempatan bertandang ke Bandung ini rupanya akan lebih leluasa dengan adanya hari libur yang mengikuti seusainya kegiatan penugasan yang kujalani? Ya, sempat sebelum beranjak menyambangi kota cantik ini, ada beragam rencana yang hendak dilakukan. Momen liburan yang tepat setelah kegiatan usai menjadi kesempatan yang tak dapat diabaikan. Bagaimana tidak? Sebelumnya jua terasa penat sekali urusan beban pekerjaan, tentu wajar adanya jika diri membutuhkan sejenak momen untuk dapat berlibur ria lepas dari urusan-urusan semacam itu dan Bandung menyajikan perbagai cara untuk itu.

Kalaupun sebelumnya sempat bimbang apakah lebih baik untuk pulang ke rumah kembali bersama keluarga, tetapi opsi ini ditolak mengingat baru beberapa waktu yang lalu aku sudah pulang ke rumah. Rasanya terlalu cepat untuk kembali ke rumah, lagipula waktunya hanya sebentar saja. Akan lebih baik jika lebih menikmati momen selepas tugas di kota ini.

Maka hal pertama yang dilakukan untuk ini adalah bersua dengan kawan-kawan lama yang ada di kota itu. Perbincangan hangat terjadi bersama mereka. Ah, sungguh kerenggangan akibat jarak dan waktu yang terjadi selama ini ternyata dapat ditepis begitu saja kala kami bertemu.

Pada hal kedua yang dilakukan adalah mengunjungi daerah wisata yang belum sempat dikunjungi pada kesempatan sebelumnya, yaitu Taman Hutan Raya Ir. Djuanda, daerah Dago Pakar. Tempat ini menyajikan pemandangan hijau yang begitu asri dan alami. Menyusuri gelapnya Gua Jepang dan Gua Belanda di dalam kawasan wisata ini juga menjadi kesan yang mengenang pada kunjungan kali ini. Curug Maribaya yang deras mengalir juga menambah kesan itu walau sayang begitu banyak sampah berserakan di tempat seindah itu.

Hal ketiga yang dilakukan di Bandung adalah sekadar menyusuri seluk-beluk sendirian dan merasakan momen-momen yang tersisa untuk dapat dinikmati di kota ini. Ah, sebenarnya belum puas rasanya untuk sejenak di Bandung ini. Nyatanya waktu yang tersedia cepat sekali berlalu dan mengharuskanku untuk kembali, November. Kembali ke kota rantau tempatku bertugas dan menjalani keseharian pada lazimnya…

17 – 18 November 2012, “Sejenak Bertemu Keluarga”

Untuk kembali ke kota rantau, aku perlu sejenak singgah di Ibukota untuk melanjutkan perjalanan karena tak dapat ditempuh secara sekaligus dalam satu kali rute. Pada kesempatan kali ini rupanya, walau sebelumnya telah diputuskan untuk tidak pulang ke rumah bertemu dengan keluarga, ada kesempatan sejenak bertemu dengan keluarga. Sesampainya aku di ibukota, kakakku sudah terlebih dahulu singgah di ibukota sementara waktu di tempat mertuanya. Ia menawariku untuk sementara singgah bersamanya di sana, maka aku pun tak menolaknya.

Sejenak memang untuk dapat bertemu dengannya dan anaknya yang lucu itu kembali. Akan tetapi, liburan kali ini menjadi ibarat pepatah sekali dayuh, dua tiga pulau terlampaui. Ada kesempatan untuk bersilaturahim dengan keluarga mertua kakak juga dan lebih mengakrabi dengan kakak ipar pada kunjungan kali ini. Beruntungnya juga karena kakak hendak kembali ke kota lahir, maka aku juga diantarkan sekalian menuju bandara. Ah, sayang tapi sebenarnya. Andai saja penerbangan yang kutempuh bukanlah menuju kota rantau, tetapi kembali ke kota lahir bersama kakak, tentu itu akan lebih menyenangkan. Tapi ya sudahlah, beginilah adanya tuntutan kehidupan. Tak selamanya apa yang diinginkan diri itu seketikanya terjadi, November…

20 November 2012, “Tourguide Painan Ekspres”

Sekembalinya aku berada di kota rantau dan menjalani keseharian dalam bertugas, aku mendapati kabar yang tak dapat disangka-sangka. Ada seorang kawan yang penasaran hendak mengunjungi kota rantauku ini dan bertemu denganku. Maka, pada setiap waktu yang dinanti untuk kedatangan kawan ini sungguh mendebarkan. Terbayang berbagai rencana akan disambut seperti apa nantinya kawan ini dan cerita-cerita apa yang hendak dibagi. Baru kali ini memang ada kawan dari kota yang jauh sedemikiannya berniat untuk mengunjungi kota rantauku ini.

Tibalah dia dengan tak hanya sendiri seperti yang kusangka, November. Rupanya dia bersama dua kawannya yang juga sudah kukenal sebelumnya. Mereka telah mengarungi perjalanan yang panjang sebelumnya bermula dari Kota Medan. Cerita akan perjalanan mereka sungguh menarik dan membuatku merasa ingin juga melakukannya. Mereka telah singgah dan mengunjungi berbagai kota seperti Parapat Toba, Padang Sidempuan, Bukittinggi, Padang dalam perjalanan Medan-Painan ini. Kesempatan rehat dengan cuti tidak bertugas, mereka optimalkan untuk menjalani perjalanan bertemu dengan kawan-kawannya. Sungguh luar biasa.

Maka, seketikanya mereka bertemu denganku, aku seakan menjadi pemandu wisata bagi mereka. Dalam waktu singkat yang mereka punya untuk menikmati pesona kota rantauku ini, mereka sangat antusias ingin mengetahui apa saja pesona itu. Lalu, kuajak mereka menikmati pantai yang menjadi ikon terkenal dari kota ini, yakni Pantai Carocok, dan mereka pun terpesona sebagaimana yang kuharapkan. Melihat reaksi mereka menjadikanku teringat bagaimana kesan pertamaku mengunjungi pantai yang indah ini, November…

Dari Pantai ini, aku ajak mereka menyeberang sebentar ke pulau yang tak jauh dari Carocok, yakni Pulau Cingkuak. Pulau dengan hamparan pasir putih, sisa Benteng Portugis yang bersejarah, dan pemandangan yang lebih menakjubkan lagi. Ekspresi mereka masih tetap saja terkagum-kagum dengan pemandangan yang tersaji di hadapan mereka. Sisa waktu yang ada untuk mereka kemudian dialihkan untuk mengajak mereka ke Puncak Bukit Langkisau tak jauh dari kawasan pantai. Ya memang, tiga objek dalam satu kawasan ini adalah keharusan bagi para pelancong jika hendak menikmati pesona Painan. Di sana, mereka dapati atraksi terjun paralayang dan pemandangan kota kecil Painan dari puncak atas bukit.

Testimoni mereka setelah menjalani tourguide ekspres ini rupanya sangat positif. Mereka menyatakan bahwa memang kota ini mempunyai pesona dan ketertarikan yang belum begitu dieksplor oleh media. Sayang mereka hanya dapat menikmati tiga objek itu saja, padahal masih banyak pesona tersembunyi dari alam Pesisir Selatan ini. Penerbangan kembali menuju tempat mereka masing-masing ketika itu hampir saja nyaris berangkat tanpa mereka karena menyempatkan sejenak waktu di Painan ini. Kawan, andai waktumu masih banyak untuk menelusuri indahnya kota rantauku ini, maka aku bersedia mengantarkan dan memandumu ke mana pun kau mau…

22 November 2012, “Kesempatan untuk Belajar Kembali”

Hasrat untuk belajar dan menjalani proses pendidikan tak dapat dipungkiri sudah semakin tinggi dalam diriku, November. Dengan sudah begitu lamanya diri tak mengenyam pendidikan formal terasa sekali ada kehilangan. Entah itu dengan nuansa lingkungannya, ilmu pengetahuan yang menjadi tuntutan untuk lebih dikuasai, atau karena begitu jenuhnya keseharian rutin pekerjaan ini, menjadikan kesempatan untuk belajar kembali begitu dinanti-nanti.

Maka, tak dapat diduga rupanya. Manakala kampus almamater hendak membuka kesempatan para alumninya untuk menempuh strata pendidikan yang lebih tinggi, begitu diri tak menyangka kesempatan itu datang secepat itu. Semula diri tidak terlalu antusias mengingat ada hal pengganjal dalam penerimaan mahasiswa baru ini karena adanya isu bahwa sudah lama instansi mengambil kebijakan untuk tidak mengusulkan para pegawainya mengikuti program ini.

Hingga kemudian suatu surat menjadi kabar gembira dan meningkatkan antusias yang sebelumnya redup terasa. Instansi tempatku bekerja ternyata mengeluarkan surat yang menawarkan program ini kepada para pegawainya. Dengan demikian, secara serta merta tertepislah isu yang sebelumnya itu. Maka tidak hanya aku saja yang antusias akan hal ini kembali, tetapi teman-temanku yang lain juga seperti itu. Ah, kawan, semoga kita akan dipertemukan kembali di kampus penuh kenangan itu… Selamat berjuang untuk seleksi program ini, aku dan kawan-kawan semuanya…

23 November 2012, “Tak Ada Gunanya Menjelaskan kepada Sang Penghasut”

Pada tugas yang kuemban sekarang ini, ada satu hal yang menjadi keenggananku dalam melakukannya. Walau ada keengganan itu, mau tak mau karena hal ini adalah kewajibanku yang menyangkut hak orang lain, maka harus ditunaikan secepatnya. Lalu, bagaimana bisa muncul keengganan itu?

Hal ini karena pada setiap kali aku melakukannya, selalu saja muncul berbagai isu miring yang tidak sedap aku dengarkan dan harus kuhadapi. Ya, hal ini selain menyangkut hak orang banyak, ia juga merupakan isu strategis yang diatur dalam suatu kebijakan dan tak semua orang puas dengan kebijakan yang telah ditentukan itu. Malah terlampau banyak yang tidak puas dan menjadikannya sebagai bahan untuk bisikan yang tidak baik.

Apalagi jika harus berhadapan dengan namanya Sang Penghasut. Dirinya pasti akan secara intens dan penuh praduga yang macam-macam untuk menyalahkan kebijakan yang sudah diatur itu. Memang sudah bawaannya bahwa ia selalu cari gara-gara dan masalah, apalagi jika ia sudah menggunakan senjata ampuhnya itu, yakni hasutannya kepada yang lain.

Dan entah apa yang masih terbersit di benakku saat berhadapan dengannya kembali untuk tugas itu. Sepertinya aku terlalu berasumsi bahwa ia adalah manusia normal dengan pemikiran yang seharusnya masih baik dan logis. Akan tetapi, akal pikirannya sendiri sudah tertutupi gelap dengan praduga negatif yang ia punya dan herannya begitu ia sangat bersikukuh akan hal itu padahal ia tidak dapat menyandarkan argumennya pada bukti yang konkrit.

Tak ada gunanya menjelaskan berbagai macam pertimbangan yang digunakan untuk kebijakan akan hal ini. Ia sudah memvonis mentah-mentah bahwa apa yang sudah diputuskan para pengampu kebijakan itu adalah salah. Ia memang sudah menjadi Sang Penghasut sejatinya, tiada belang lagi yang kentara pada dirinya. Ia sudah seutuhnya menunjukkan wujud perangai jeleknya itu. Dan aku, jelas bersalah masih menganggapnya normal dan malah mengutarakan hal-hal yang sensitif baginya untuk ia sebarkan sebagai bahan hasutan lagi…

24 – 25 November 2012, “Perjalanan Kembali Bersama Special Travelmate”

Setelah sekian lama tidak menjalani suatu perjalanan yang menyenangkan bersama Special Travelmate lagi, maka pada penghujung kehadiranmu, November, kuajak dirinya untuk mengunjungi tempat-tempat yang menjadi keinginan kami namun belum dikunjungi. Awalnya kuajak dirinya menikmati pesona alam Air Terjun Bayang Sani yang pernah aku rasakan sebelumnya. Namun, karena ketersediaan waktu yang ada saat itu, malah dirinya yang mengajakku terlebih dahulu mengunjungi tempat yang lebih terjangkau, yakni Pantai Sago dan Lubuk Larangan.

Pada Pantai Sago, aku terpukau dengan garis pantainya yang panjang dan deretan pohon pinus pantai. Cuaca saat itu juga begitu cerah sehingga kombinasi warna hijau pohon pinus, cokelatnya pasir, dan birunya pantai begitu indah terasa. Pada Lubuk Larangan, daerah ini menyajikan pemandangan tepi sungai yang tenang dengan latar belakang pegunungan hijau nan asri. Sungai ini rupanya dihuni oleh ikan-ikan yang begitu berkerumun saat dilemparkan makanan untuk mereka. Cocok sekali tempat ini sebagai tempat pelepas penat dengan menikmati pemandangan pegunungan dan sungai serta bercengkrama memberi makanan kepada kerumunan ikan.

Setelah sebelumnya Special Travelmate telah memandu untuk menikmati Pantai Sago dan Lubuk Larangan yang pernah ia singgahi, maka pada hari selanjutnya akulah yang memandunya menuju tempat yang begitu ia ingin ketahui yakni, Air Terjun Bayang Sani. Semula aku agak lupa di manakah tempatnya sehingga sempat tersesat melampaui jarak yang seharusnya, hingga akhirnya sampailah jua di tujuan dan ya Air Terjun Bayang Sani ini masih memukau seperti yang dulu aku temui. Sesampainya di sana, Special Travelmate langsung secara totalitas menikmati segarnya air di sana dengan mandi dan berenang. Sedangkan bagiku saat itu, cukuplah puas dengan mencari objek foto dokumentasi keindahan tempat itu dan menangkap momen menyenangkan bersamanya.

27 – 28 November 2012, “Untuk Akhir Tahun yang Lebih Baik”

Fenomena terakhir pada penghujung kisah bersamamu, November, ditutup dengan kegiatan kantor bertajuk Sosialisasi Langkah-langkah Akhir Tahun. Ya, kegiatan ini rutin dilakukan pada penghujung tutup tahun agar mitra kerja dapat mengkondisikan dengan kekhususan kejadian yang selalu terjadi di akhir tahun. Untukku sendiri, ini menjadi permulaan akan klimaks beban yang nantinya akan kuhadapi. Akhir tahun akan berimbas pada semakin meningkatnya beban pekerjaan. Pada kegiatan ini juga aku juga harus berperan serta menyelenggarakannya  walau sebenarnya tidak ada kewajiban tertulis akan hal itu.

Ah, akhir tahun ini, semoga lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya dan segala macam tantangan dapat dilampaui dengan baik dan lancar…

 

***

Fenomena-fenomena itu telah kutuliskan, November. Seiring proses dalam menuliskan kesemuanya ini, begitu tersirat bahwa fenomena bersamamu ini menjadi suatu pembelajaran akan hal baru bagiku, November.

Hidup akan senantiasa terus berkembang dan menjadikanku merasakan fenomena-fenomena yang berbeda dan unik entah kuhendaki atau tidak. Hal baru inilah yang menuntutku untuk mempelajarinya, mengenangnya, dan memanfaatkannya untuk memantapkan nilai-nilai acuan dalam kehidupan.

Pada fenomena-fenomena itu, aku semakin menemui dan mampu menggambarkan lebih jelas lagi seperti apakah kepribadianku sebenarnya dalam menghadapi perbagai warna-warni kehidupan…

Painan, 16 Desember 2012, 23.55

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s